Sabtu, 13 Agustus 2016

Kerajaan Trumon dan Benteng Kuta Batee

benteng_trumon
 
Memiliki cap sikureng (cap sembilan) dan mata uang sendiri yang di akui dunia, membuat kerajaan Trumon dikenal bangsa Asia dan Eropa. Bahkan mempunyai armada dagang bernama Diana dan Le-Xemie yang membawa lada ke Penang, India dan Timur Tengah.

Henurut H. Muhammad Said, dalam bukunya Aceh Sepanjang Abad, dijelaskan, kerajaan Trumon didirikan Tengku Djakfar atau lebih dikenal dengan sebutan Teuku Raja Singkil sekitar abad ke - 18. Beliau putra dari Ja Johan, salah satu keturunan Ja Thahir dari Bagdad yang menetap di Batee, Pidie. Tengku Djakfar adalah murid dari Tengku di Anjong Peulanggahan.
Setelah belajar dan memperdalam agama Islam, beliau di utus gurunya untuk berangkat ke sebelah Barat Aceh.  Tengku Djakfar, memilih Ujong Serangga, Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, sebagai tempat mengembangkan ilmunya.

Di Ujong Serangga, Tengku Djakfar mengajar agama Islam, hingga pada akhirnya memperoleh gelar labai (tengku atau ulama). Beberapa tahun di Ujong Serangga, labai Djakfar, begitu dia dipanggil, melanjutkan perjalannya ke Singkil dan menetap di sana.

Sekitar tahun 1780, Tengku Djakfar mulai menata dan membangun Trumon. Beliaulah yang menjadi penguasa dan raja pertama di daerah yang terkenal dengan penghasil lada pada saat itu.

Nama Trumon, konon bermula sewaktu Tengku Djakfar membuka perkebunan lada di daerah sebelah utara Singkil. Pada saat itu, beliau menemukan sebuah sumur tua dan ditepinya terdapat sebatang terung, yang dalam bahasa Aceh disebut “ Trueng Bineimon”. Sejak itulah, daratan tersebut terkenal dengan nama Trumon.

Puncak kejayaan kerajaan Trumon, dicapai dibawah pemerintahan Teuku Raja Fansury Alamsyah atau lebih dikenal dengan Teuku Raja Batak. Beliau merupakan raja ketiga, menggantikan ayahnya, Teuku Raja Bujang, yang sebelumnya menerima tahta dari kakeknya ( Tengku Djakfar), yang tak lain adalah pendiri kerajaan Trumon.

Menurut beberapa sumber, pada masa Teuku Raja Batak inilah Benteng Kuta Batee dibangun. Benteng ini, selain berfungsi sebagai pertahanan ketika diserang musuh (penjajah), juga digunakan sebagai pusat pengendalian pemerintahan oleh raja. Di dalamnya juga terdapat istana raja dan sebuah gudang tempat menyimpan barang-barang penting milik kerajaan.

Luas benteng tersebut, sekitar 60x60 meter dengan tinggi sekitar empat meter.Tebal dindingnya mencapai satu meter dengan tiga lapisan. Bagian luar terbuat dari batu bata, kemudian pasir setebal 30 senti meter dan bagian dalam dari batu bata tanah liat.

Di sekeliling benteng, juga terdapat balai sidang. Balai ini biasanya digunakan untuk rapat atau sidang-sidang adat kerajaan yang dipimpin langsung oleh raja. Selain itu, juga terdapat rumah sula (penjara) sebagai tempat bagi yang divonis hukuman mati.

Bukti lain yang membuat kerajaan Trumon terkenal, karena salah satu diantara sembilan kerajaan di Aceh yang memiliki cap sikureng (sembilan). Di samping itu, kerajaan Trumon juga memiliki mata uang sendiri sebagai alat tukar yang sah, bukan saja di akui di Aceh, tapi juga diakui dunia.
 
Di mata dunia, Asia dan Eropa, Trumon sangat dikenal. Ini disebabkan perdagangan lada yang berkembang pesat saat itu. Bahkan kerajaan Trumon mempunyai armada dagang yang diberi nama Diana dan La-Xemie yang membawa lada ke Penang, India dan Timur Tengah

Kesultanan Trumon, merupakan bagian dari kerajaan Batak yang di akuisisi oleh kesultanan Aceh setelah rajanya masuk Islam.Itu dapat dilihat dari bendera kerajaan Trumon yang menjadi cikal bakal bendera yang dipakai Sisingamangaraja XII (dua belas).

Kerajaan Batak Sisingamangaraja VII, diduga masih memiliki hubungan dengan kerajaaan di Singkil, khusunya kerajaan Trumon. Sebelum di akui oleh kerajaan Aceh, kerajaan Trumon merupakan provinsi  dari Kesultanan Barus.

Ketika bencana tsunami melanda Aceh, 26 Desember 2004 lalu, meluluhlantakkan sebagian wilayah Aceh. Trumon, juga menjadi salah satu sasaran dari bencana tersebut. Namun, benteng Kuta Batee selamat dari ancaman tsunami.

Padahal, benteng tersebut hanya terletak sepuluh meter dari bibir pantai. Menurut sumber masyarakat di sana, konon, beredar kabar ini sebuah keajaiban dan tidak masuk akal. Karena, disaat air laut naik setinggi dua meter, justeru tidak masuk ke dalam benteng tersebut. Bisa saja air masuk lewat pintu atau jendela benteng.

Di sisi lain, rumah dan bangunan toko yang berada di sekitar benteng hancur porak-poranda dihamtam gelombang tsunami. Masyarakat beranggapan, benteng tersebut luput dari bencana, disebabkan berkat do’a raja-raja Trumon yang terkenal alim dan heroik.


Readmore: http://www.atjehcyber.net/2011/06/kerajaan-trumon-dan-benteng-kuta-batee.html#ixzz4HDkMZ4Nq 
Sumber: @atjehcyber | fb.com/atjehcyberID

Sabtu, 06 Agustus 2016

Warga Trumon Timur Demo DPRK

trumon timur
Warga dari Kecamatan Trumon Timur, Aceh Selatan, berunjuk rasa ke Gedung DPRK dan kantor Bupati Aceh Selatan, Senin (25/1). Mereka menuntut eksekutif dan legislatif untuk segera menyelesaikan persoalan tapal batas tanah warga dengan HGU PT Asdal Prima Lestari (PT APL) serta menuntut PT APL merealisasikan kewajibannya menyangkut program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan membangun kebun plasma untuk masyarakat sekitar. SERAMBI/TAUFIK ZASS 

Terkait Tapal Batas dan Program CSR
TAPAKTUAN - Seratusan warga dari Kecamatan Trumon Timur, Kabupaten Aceh Selatan, Senin (25/1) berunjuk rasa ke Gedung DPRK dan kantor Bupati Aceh Selatan. Massa tiba di Tapaktuan sekira pukul 12.00 WIB menggunakan mobil bak terbuka dan mengusung spanduk bertuliskan, “Selesaikan persoalan tanah hak milik adat masyarakat Trumon Timur dengan PT Asdal Prima Lestari,” dan “Hukum tumpul ke atas tajam ke bawah”.
Massa kemudian menuju ke gedung DPRK Aceh Selatan yang disambut Ketua DPRK Aceh Selatan T Zulhelmi bersama beberapa anggota DPRK lainnya. Dalam aksinya massa menyampaikan orasi yang intinya menuntut DPRK Aceh Selatan segera merealisasi janjinya menyangkut upaya penyelesaian persoalan tapal batas tanah warga dengan HGU PT Asdal Prima Lestari.
“Kami meminta DPRK mendesak PT APL segera memenuhi kewajibannya menyangkut program CSR dan kebun plasma untuk masyarakat,” kata Koordinator Aksi Adi Samrida dalam orasinya di gedung DPRK Aceh Selatan. Menanggapi tuntutan tersebut T Zulhelmi berjanji pihaknya terus berusaha memperjuangkan tuntutan pengunjuk rasa. Pihak dewan juga sudah membentuk panitia khusus (Pansus) menyangkut penyelesaian tapal batas HGU PT APL serta persoalan dana CSR dan kebun plasma yang belum dipenuhi pihak perusahaan.
“Pansus sudah kami bentuk dan tahapan-tahapan sudah kami gelar. Tim pansus penyelesaian sengketa lahan ini diketuai saudara Mizar,” tegas T Zulhelmi. Sementara itu Ketua Pansus Mizar menyebutkan pihaknya masih komit dengan janji yang pernah disampaikan saat turun ke Trumon Timur beberapa waktu lalu.
“Tapi dalam hal ini kami juga harus bertindak sesuai peraturan perundang-undang yang ada,” sebutnya. Ia berharap masyarakat Trumon Timur bersabar dan memberi waktu kepada DPRK Aceh Selatan selama satu bulan.
Usai menyampaikan orasi di gedung DPRK Aceh Selatan selanjutnya massa menuju ke kantor Bupati Aceh Selatan. Namun bupati tidak juga menjumpai para peserta aksi. “Kami sangat kecewa dengan sikap bupati yang tidak mau menjumpai rakyatnya yang sudah datang jauh-jauh dari Trumon Timur. Sudah dua jam kami berdiri di sini, namun pemimpin kami tidak juga mau menjumpai rakyatnya,” sesal seorang peserta aksi. Menurut informasi massa akan bertahan sampai tuntutan mereka ditanggapi bupati.(tz)

Editor: bakri

Masyarakat Trumon Ancam Kembalikan KTP & SK ke Pemkab Aceh Selatan

 14 Januari 2016

Perwakilan tokoh masyarakat dari tiga desa di Kecamatan Trumon mengancam akan mengembalikan KTP dan SK Keusyik bila Pemkab Aceh Selatan tidak turun tangan menyelesaikan permasalahan PT. ASDAL dengan masyarakat setempat.
LINTAS NASIONAL – ACEH SELATAN, Masyarakat di tiga desa Kecamatan Trumon Timur, yaitu Desa Kapa Seusak, Desa Alue Bujok dan Desa Titie Poben mengancam akan mengembalikan KTP dan SK desa ke Pemerintah Aceh Selatan.
Hal tersebut disampaikan oleh Wardiansyah, warga Desa Kapa Seusak pada Rabu 13 Januari 2016.
“Jika Pemerintah Aceh Selatan diam dan tidak mau turjun tangan menyelesaikan  permasalahan dan kasus PT.ASDAL dengan masyarakat Trumon Timur, maka kami dari tiga desa akan kumpulkan KTP dan SK Keuchik dan akan kami kembalikan semuanya ke Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, jelas Wrdiansyah kepada wartawan.
Purwanto, Koordinator dari masyarakat tiga desa, menambahkan bahwa persoalan PT.ASDAL harus diselesaikan dengan turun tangan Pemkab Aceh Selatan.
“Kami berharap Pemerintah Aceh Selatan jangan diam dan bungkam terhadap permasalahan masyarakatnya dengan PT.ASDAL, karna pada tanggal 12 Januari kemarin berjanji akan di selesaikan,” ujar Purwanto.
Ditambahkan Purwanto, pemerintah harus merespon tuntun warganya, “jangan mengabaikan permasalahan yang sedang dialami masyarakat, pemerintah harus terjun tangan menyelesaikan ini,” harap Purwanto yang kompak diamini oleh perwakilan masyarakat dari ketiga desa tersebut.
Untuk diketahui, berdasarkan pengakuan masyarakat dari ketiga desa tersebut, tanah yang ditempati PT. ASDAL merupakan milik warga, dan PT yang bersangkutan terus memperluas lahan operasionalnya yang merupakan milik warga setempat.
Masyarakat dari ketiga desa tersebut sudah meminta kepada PT. ASDAL untuk tidak lagi memperluas lahan milik warga, dan warga juga telah melakukan audiensi dengan PT. ASDAL, akan tetapi pihak PT tidak menghiraukan tuntutan warga, dan yang paling membuat warga marah dan kecewa, karna pemerintah setempat dinilai tidak mau terjun tangan, seolah2 permasalahan ini dinilai diabaikan oleh pemerintah.
Karena hal tersebut, masyarakat dari tiga desa di Kecamatan Trumon Timur mengancam akan mengembalikan KTP dan SK ke Pemkab Aceh Selatan, padahal warga sudah beberapa kali melakukan aksi, namun tidak ada respon.
Sampai berita ini diturunkan, baik masyarakat maupun wartawan belum mendapat konfirmasi dari Pemerintah Aceh Selatan.
Laporan Iskandar.PB